Postingan

Surat Untuk Tuhan

Bandung, 20 November 2016 Kepada,   Tuhan Yang Mahabaik . Tuhan, apa kabar? Kapan terakhir aku mengirim surat padaMu? Sepertinya sudah lama sekali. Kali ini, aku merindu untuk kembali mengirimMu surat, sekaligus aku ingin menumpahkan segala tanya dan keresahan yang belum kunjung reda. Tuhan, aku yakin Kau tak seperti ibu tiri yang mengirimku ke dunia ini hanya untuk merasa dan melihat derita dan duka. Namun di sini aku banyak menangis, tentang hidup, tentang segala kepedihan, tentang orang-orang, dan tentang diriku sendiri. Dulu di alam sana, aku pikir dunia ini adalah tempat yang penuh dengan kebahagiaan. Ternyata, tak henti aku melihat peluh dan air mata yang senantiasa bercampur menghadapi kehidupan. Kadang, aku tak mengerti “jalan pikiranMu”, Tuhan. Apa tujuanMu terhadap kami -para manusia- di balik setiap persoalan hidup yang Engkau berikan yang seakan tak pernah habis. Begitu selesai masalah, muncul masalah baru. Apa maksud semua ini, Tuhan? Mengapa Kau beri ...

Aku Adalah Roh, yang Menjadi Perempuan

       Kalau aku terlahir sebagai laki-laki, mungkin saat ini aku sudah ada di Sumatra, Ternate, atau bahkan Papua. Mungkin juga aku sudah ada di pedalaman bersama suku Dayak atau Asmat. di gunung atau hutan manapun yang ingin aku jelajahi. Tapi aku terlahir sebagai perempuan. Dan perempuan itu banyak aturan. ini dan itu yang kadang buatku rieut.         Aku sebagai roh sudah ditiupkan Tuhan ke dalam jasad seorang perempuan bernama Sayidah Iklima. Maka, sudah tugasku menjadi perempuan dan melaksanakan segala tata keperempuanan (entah apa saja). Dulu, aku tidak peduli gender. Tidak memandang aku ini perempuan atau laki-laki.   Aku mengalir saja sebagai manusia dan menjalankan hidup. Namun sejak "sadar" aku ini perempuan, perlahan aku jadi perempuan. Tentu aku mesti menjalankan tugasku sebagai perempuan. Meskipun roh sebagai sistem kesadaran tidak berjenis kelamin. Jenis kelamin itu hanya ada pada ja...

Kelapangan Rezeki

Nyaris idealismeku terkikis oleh keresahan-keresahan akan hidup dan pencarian materi. Hampir, aku melepaskan prinsipku untuk mengabdi tanpa pamrih dan setulus hati, karena rasa takut akan tak terpenuhinya kebutuhan hidup yang sebetulnya bersumber dari hasrat tak puas akan hal-hal yang bersifat duniawi. Aku masih menjadi mahasiswi semester akhir (semoga saja) yang sedang menyusun tugas akhir bernama skripsweet, haaa. Namun, karena terdesak oleh kebutuhan hidup dan hutang yang harus segera dibayar, aku hampir meninggalkan kewajibanku untuk mengabdi. Aku bingung mencari pemenuhan materi ini. Sudah dua kali aku ditolak oleh lembaga/instansi pendidikan kala mengajukan lamaran ke sana. Yang satu karena alasan mereka sudah memiliki beberapa guru honorer. Satu lagi, sebelumnya aku sudah mengajukan pengunduran diri dari sekolah tersebut. Tapi, kebutuhan “mendesakku” untuk kembali kesana. Sayang, kepala lembaga tersebut cenderung tidak menerimaku kembali, dengan alasan administrasi. Ini m...

Pertemuan di Jembatan Bernama Hati

_Pertemuan di jembatan bernama hati_ "Hai, kau yang duduk di sebelah sana? Sedang apa?" tanyanya "Sedang menunggu sesuatu," jawabku. "Sambil memancing ikan?" "Ya, barangkali ada ikan baik yang rela terkena pancinganku," "Kau suka ikan?" Tanyanya lagi. "Ya, untuk aku pindahkan dalam kolam kecil di samping rumahku." "Bolehkah aku menemanimu memancing?" Ia menawarkan diri. "Silahkan." Jawabku sedikit bergeser, membagi tempat duduk. Kami pun memancing ikan bersama, sambil bercerita tentang berbagai hal menarik. Hingga hal-hal tentang kami yang paling rahasia. Tak lama, di jembatan bernama hati itu, kami saling bercerita dan berbagi tentang hati. Di jembatan bernama hati, sesuatu terjadi. Dia tiba-tiba harus pergi karena sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Aku duduk sendiri sambil memindahkan ikan yang terpancing ke dalam ember kecil yang aku bawa. Aku merasakan sesuatu di dalam, membua...

PARIBASA SUNDA

PARIBASA SUNDA Abang-abang lambe Hanya baik di bibir saja untuk menyenangkan hati orang lain. Abis bulan abis uang Habis bulan, uang gaji pun habis juga; penghasilan yang pas-pasan untuk sebulan saja. Abong biwir teu diwengku Segala diceritakan tidak dengan pertimbangan baik buruk. Abong biwir teu diwengku, abong letah teu tulangan Berbicara seenaknya saja; berkata tidak mempertimbangkan baik buruknya. Abong letah teu tulangan Berbicara seenaknya biarpun orang lain sakit hati atas perkataannya. Adab biada Berembuk; bermusyawarah. Adam lali tapel Lupa pada sanak saudara dan tempat kelahiran. Adat kakurung ku iga Tabiat atau watak yang sulit diubah. Adean ku kkuda beureum Sombong dengan barang pinjaman atau barang milik orang lain; bergaya, bertingkah, atau bersolek dengan barang pinjaman. Adep hidep Berbakti pada suami. Adigung adiguna Sombong (nampak dalam tingkah laku dan ucapannya). Adil pamalarata Sangat adil, penyabar, dan berb...